Bulan Ramadhan disebut sebagai
bulan umat Islam karena bulan Ramadhan hanya diberikan kepada umat Islam. Di
dalamnya banyak sekali keutamaan yang bisa diraih khusus oleh umat Islam. Di
bulan Ramadhan juga turun rahmat, ampunan dan dilipatgandakan pahala amal
ibadah umat Islam.
Berbagai kelebihan Ramadhan itu
maka umat islam bergembira atas kehadiran bulan tersebut. Kehadirannya dianggap sebagai tamu yang hadir
satu kali satu tahun. Di Indonesia, umat islam berbagai tradisi dilakukan baik menyambut
bulan Ramadhan, dipertengahan bulan bahkan tradisi di akhir Ramadhan. Tradisi Ramadhan menjadi momen penting bagi
umat islam dalam rangka meningkatkan nilai spiritual maupun sosial, tak
terkecuali masyarakat Desa Itterung .
Salah satu tradisi unik yang
syarat dengan makna kebersamaan dan nilai budaya adalah tradisi lima belas
ramadhan. Tradsi tersebut merupakan
bentuk syukur yang menandai separuh akhir Ramadhan. Tradsi ini memberi warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat
dan dilakukan secara rutin setiap tahun sehingga menjadi sebuah tradisi turun
temurun sejak lama.
Di masjid Jami Anwar tradsi lima
belas ramdhan dilakukan dengan bentuk buka puasa bersama di masjid. Bentuk tradisi itu masing-masing masyarakat membawa
makanan ke masjid sesuai kemampuan kemudian dimakan bersama saat berbuka. Hal
yang sedikit berbeda di masjid Istiqomah Cilellang, masyarakat makanan namun waktu makan bersama dilakukan
setelah shalat tarwih. Yang unik dalam
tradisi ini adalah makanan yang dibawa masyarakat adalah makanan tradsional khas
bugis yang biasa hadir di perayaan lebaran seperti burasa dan ayam nasu likku.
Budaya lokal ini sebagai tradisi yang
memperkaya ritual keagamaan yang patut dilestarikan karena di dalamnya sarat
akan nilai-nilai kebersamaan, sosial, budaya dan silaturahmi.