IDMI Bersyiar di Desa Itterung

📅 17 November 2025
IDMI Bersyiar di Desa Itterung











Pengurus Daerah ikatan DAI Muda Indonesia Kabupaten Bone pada pekan ini melaksanakan salah satu program bertajub IDMI Bersyiar. Dalam kegiatan ini mengangkat tema ceramah " Untung Rugi dalam Pandangan Al- Qur'an". 

Kegiatan IDMI bersyiar di Desa Itterung disambut hangat oleh segenap masyarakat Desa Itterung, dalam hal ini pemerintah Desa Itterung, pengurus Ta'mir masjid Anwar Desa itterung dan ibu Majlis Ta'lim se-Desa Itterung. Adapun yang hadir pada kegiatan ini adalah ketua umum IDMI ( Bapak H.Bahtiar, S. E., M. H), Sekretaris umum IDMI (Saturdi Hamid, M. Pd) dan segenap pengurus IDMI lainnya.

Kegiatan diawali oleh sambutan pemerintah desa Itterung dalam hal ini Sekretaris Desa Itterung, dalam sambutannya disampaikan bahwa sangat mengapresiasi kegiatan IDMI bersyiar yang mampu memberikan siraman rohani kepada segenap jamaah dan  menyampaikan pesan-pesan agama untuk membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik, sesuai ajaran Islam. Dilanjut dengan sambutan ketua umum IDMI menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan hangat dan antusias jamaah untuk ikut dalam kegiatan IDMI bersyiar, salah satu guna kegiatan ini untuk memperkenalkan IDMI dikalangan masyarakat dengan cara syiar agama ke berbagai kecamatan yang ada di Kabupaten Bone. 

DiKegiatan Inti, ceramah yang dibawakan oleh Al-udstaz Sulmuddin Halim, S. H dengan tema : Untung rugi dalam pandangan Al-qur'an, dalam ceramah dapat kita menarik kesimpulan bahwa Dalam pandangan Al-Qur'an, ukuran untung dan rugi tidak hanya dilihat dari aspek duniawi, tetapi juga dari nilai spiritual dan akhirat. Keuntungan sejati adalah ketika seorang hamba tetap beriman, beramal saleh, dan selalu berada di jalan yang diridai Allah SWT. Sebaliknya, kerugian terbesar adalah apabila seseorang menjual keimanan demi kesenangan dunia, mengabaikan perintah Allah, serta melupakan tujuan hidup sebenarnya.

Al-Qur'an mengingatkan bahwa harta, jabatan, dan kesenangan dunia hanyalah sementara. Yang menjadi ukuran keberuntungan hakiki adalah keteguhan hati, ketaatan, dan amal yang terus mengalir sebagai bekal di akhirat. Karena itu, setiap Muslim hendaknya menimbang setiap pilihan hidup dengan nilai-nilai Al-Qur’an, agar tidak termasuk golongan yang merugi.